oleh

Kasus Proyek Irigasi Jaling Gunakan Batu Bekas, LBH KAI Bone Minta Jaksa Serius Tangani Perkara

Klipnews.com_Bone Dugaan korupsi Proyek pembangunan Irigasi Jaling Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone yang di kelola oleh PT. Mitra Aiyangga Nusantara selaku pihak pemenang tender proyek senilai Rp 11,9 Miliar hingga kini masih terus bergulir di Kejaksaan Negeri Watampone.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Bone Andi Kurnia yang dikonfirmasi melalui Aplikasi Android membenarkan laporan Terkait Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Jaling masih sedang berproses.

“On proses de, Lg tdk sehat ka de. Tdk masuk ktr ka,” melalui pesanNya

Ketua LBH Kongress Advokat Indonesia (KAI) Kabupaten Bone Rusmin Igho menilai ada yang tidak Lazim dalam penanganan Perkara tersebut.

“Perkara yang sebelumnya proses Lidik di Intel kejaksaan dan saat ini telah dilimpah ke pidsus namun hingga hari ini status terlapor belum ditingkatkan menjadi tersangka, justeru yang dilakukan Kasi Pidsus berpolemik di media padahal belum juga ditetapkan Tersangkanya, ini ada apa,” kata Igho.

Igho menyayangkan, Lambannya kerja Kejaksaan Negeri Bone hingga saat ini belum menentukan Tersangka pada dugaan Korupsi proyek irigasi tersebut.

“padahal sebelum sudah ada beberapa pihak yang dimintai keterangan sebagai saksi, termasuk Hamzah selaku pihak ketiga pelaksana pekerjaan pasangan batu Proyek Daerah Irigasi Jaling tersebut yang diantara keterangannya mengakui telah menggunakan material batu bekas bongkaran sehingga nilai kontrak yang diterima hanya 500 ribu permeter. Selain itu dalam laporan klien Kami perkara ini sdh jelas data data yang kami lampirkan ada indikasi terjadi tindak pidana korupsinya,” Lanjutnya.

Sementara itu Hamzah yang merupakan pihak ke tiga dalam pembangunan Proyek Irigasi Jaling juga mulai angkat Bicara.

Hamzah Menjelaskan, Dirinya berani menerima Tawaran PT. Mitra Aiyangga Nusantara hingga membanting harga 500 ribu perkubi lantaran pihaknya diijinkan menggunakan Batu bekas galian irigisi sebelumnya.

“500 ribu perkubi itu hanya pemasangan batu saja, lain juga untuk pelasteran, saya berani karena di pake batu bekas dan mobil pribadi saya gunakan, karena gaji sopir mobil tidak ada kalau tidak mengangkut,”kata Hamzah

Ia melanjutkan, dirinya tidak berani mengambil resiko jika pengnggaran pemasangan batu irigasi dengan anggaran 500 Ribu perkubi tanpa menggunakan batu bekas.

“Perhitungan saya sesuai dengan kontrak nilai seluruh pekerjaan sebanyak 2 miliar lebih bahkan sampai saat ini masih ada sisa uang saya yang belum di bayarkan sebasar 347” Lanjutnya

Rachmat_Ulla.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed