Abangku, Guruku yang Aku Sapa Komandan

150
Foto bersama Kapolres Bone AKBP MUHAMMAD KADARISLAM KASIM bersama Tim7

Bone. Klipnews.com Rasanya akan selalu menyakitkan jika kita ditinggalkan oleh sahabat yang tadinya selalu akrab dengan kita. Ditinggalkan oleh seorang sahabat dapat membuat kita merasa sedih dan kesepian.

Namun jangan larut dalam kesedihan, karena beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menangani kondisi perasaan seperti ini, mulai dari memahami alasan di balik perasaan ditinggalkan, mendorong diri sendiri untuk keluar dari perasaan tersebut, serta mengatakan perasaan Anda langsung kepada sahabat yang meninggalkan Anda.

Sesungguhnya perasaan Anda sama pentingnya dengan perasaan semua orang. Oleh karena itu, teruskan membaca tulisan di bawah ini biar Anda semakin sedih …

Kakandaku
Abangku
Guruku Yang akrab kami sapa
Komandan…
AKBP MUHAMMAD KADARISLAM KASIM, S.H., S.I.K., M.Si.

Dua setengah tahun lalu
Engkau Hadir ditengah-tengah Kami
Menjadi Pengayom,
dan membimbing kami ke jalan yang Haq…
Sungguh Mulia Hati dan Budi pekerti mu…

Padahal, dua setengah tahun yang lalu
Kami hanya menduga kehadiranmu itu sebagai sosok yang biasa saja, atau bahkan akan menjadi momok yang kerap menghantui kami di setiap persimpangan jalan lampu merah.
Maafkan saya, maafkan Kami yang telah salah menilai mu…

Rupanya, Engkau telah merubah cara pandang kami tentang istilah “Lapan Enam Komandan…”
Walaupun di luar sana, istilah “Lapan Enam Komandan” masih sayup sayup terdengar.

Hmmm…
Kakanda, yang saya sapa Komandan…
Sungguh engkau telah hadir menjadi sosok pemimpin yang patut dijadikan panutan…
Kami sudah lama rindu tentang sosok itu hadir di Bumi Arung Palakka.

Hingga Dua Setengah Tahun, kami Terbuai serasa dininabobokan dengan kedamaian dan ketentraman yang engkau ciptakan.
Kami takut kehilangan sosok mu saat ini…

Rasanya tak bisa rela, jika sosok itu pergi di tengah-tengah kami.
Aduh…
Sungguh tak sanggup Rasanya.

Cerita tentang
Merah Putih di Tangkulara
Pasti tak akan kami hapus dari catatan kenangan Kami
Bahkan engkau akan menjadi sejarah sebagai sosok pejuang bagi kami kelak.

Guruku yang saya sapa Komandan…
Engkau tak hanya bisa membangun masjid yang megah di sana…
Tetapi engkau juga mampu membangunkan hati kami untuk mengisi shaf masjid yang selama ini melompong.
Senyum dan sapamu selalu sejuk itu, seakan mengingatkan kami tentang indahnya surga…

Tak rela rasanya Jauh darimu…
Tetapi demi panggilan tugas dan tanggung jawab sebagai abdi negara, kami terpaksa harus rela melepasmu pergi
Tetapi…
Tetapi,
Suatu hari Kami menantimu kembali menjadi sosok pemimpin, Ponggawa Bone yang sesungguhnya. InsyaAllah….

Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja (Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir)

Tellui sitinro, Cinnae, uddanie , napassengereng (tiga beriringan, cinta, rindu, dan kenangan indah)

Senge’ka Golla, usenge’ki kaluku, tosirampe mannennungeng.

Tellabu essoe ritengnga bitarae, takkan tenggelam matahari di tengah langit.

Bumi Arung Palakka,

Rabu 30 Oktober 2019

Adindamu, Kawanmu
yang kerap memanggil mu
Komandan…

Rusmin Igho

loading...