Bagi rakyat Sulawesi Selatan istilah “to manurung” telah menjadi legenda yang diyakini sebagai asal-usul para raja dan bangsawan. Meskipun demikian pemahaman tentang to manurung masih pro kontra bagi sebagian masyarakat sampai saat ini.

“to manurung” dalam bahasa Bugis terdiri dari dua kata, yaitu “to” yang berarti “tau” (orang), dan ”manurung” yang berarti turun dari tempat yang tinggi dalam pengertian turun dari langit. Ia dianggap sebagai bukan manusia biasa yang turun ke bumi untuk mengatur kehidupan manusia di bumi.

Di bumi awalnya manusia hidup terpisah kemudian membentuk kelompok, selanjutnya kelompok-kelompok itu membentuk satu komunitas.

Setiap kelompok dipimpin seorang “kalula” yang bertugas sebagai pemimpin kelompok. Selanjutnya beberapa kelompok membentuk sebuah komunitas lebih besar yang disebut “wanua” di mana wanua tersebut dipimpin seorang yang disebut “anang”. Dalam menjalankan tugasnya sebagai anang dibantu oleh beberapa kalula.

Dalam perkembangannya para kelompok yang dipimpin oleh masing-masing kalula terjadi persaingan akhirnya banyak yang keluar dan memisahkan diri dengan kelompok lain. Kemudian mereka membentuk anang sendiri. Sehingga berdirilah anang baru, dan begitu seterusnya.

Awalnya persaingan terjadi hanya antara kelompok namun dalam perkembangannya bahkan terjadi pada antar anang (antar wanua). Dengan demikian masing-masing anang ingin saling menguasai, sehingga terjadilah perang yang menimbulkan korban kedua pihak.

Perang berkecamuk di mana-mana terjadi kekacauan. Tak ada lagi aturan yang mengikat siapa yang kuat itulah yang menang hanya hukum rimba yang berlaku. Di antara mereka masing-masing memberlakukan kehendak dan kemauan sendiri, tidak ada lagi saling mempercayai, mereka saling membunuh. Dalam kondisi seperti itulah disebut “sianrebale”.

Selama tujuh pariama terjadi situasi seperti itu, mereka yang terlibat saling berperang merasa jenuh juga pada akhirnya, namun kedua pihak masih enggan bertemu untuk berdamai. Ia tetap bertahan pada harga diri masing-masing.

Sebenarnya kedua belah pihak yang berperan sudah jenuh berselisih, mengingat sudah banyak menimbulkan korban materi dan nyawa. Ia berharap suatu hari nanti ada orang di luar mereka yang bisa menjadi penengah dan berperilaku netral.

Harapan itupun terjadi, ketika suatu waktu datanglah seseorang dari lipu lain (kampung jauh). Orang itu hadir pada saat kedua kubu akan saling menyerang. Orang asing itu berdiri di tengah sambil memandang kedua kubu yang sudah bersiap saling menyerang.

Kehadiran orang asing itu menarik perhatian sehingga kedua pihak memutuskan untuk tidak saling menyerang lagi. Bisa saja orang tersebut di tempat persemediannya sudah mengetahui kalau kedua kubu sudah jenuh berperang, sehingga mereka memberanikan diri untuk datang melerai yang bertikai.

Sosok orang asing inilah yang kemudian disimbolkan to manurung jadi bukanlah mereka sebagai orang yang turun dari langit yang dilegendakan sebagian masyarakat selama ini. Karena atas jasanya menjadi penengah sehingga mereka ditokohkan oleh masyarakat pada masa itu.

Oleh karena itu, to manurung ini muncul untuk menjawab permohonan masyarakat untuk menyelesaikan masalah yang melandanya antara lain kehidupan yang selalu dilanda kekacauan, kezaliman, atau kesengsaraan hidup sebagai akibat tidak berlakunya aturan yang sudah dibuat sebelumnya.

Dari berbagai sumber, semua kerajaan di Sulawesi Selatan memiliki cerita tentang asal-usul rajanya yang berasal dari to manurung, dan memiliki dokumen tertulis, seperti di Kerajaan Luwu namanya Lagaligo, di Bugis dan Makassar namanya Lontara’ yang umumnya mengartikan bahwa to manurung’ adalah sosok manusia terbaik yang muncul di suatu tempat yang tidak diketahui asal usulnya.

Contohnya, dalam kisah “Manurunge ri Matajang (Raja Bone ke-1), diawali dengan kondisi yang kacau tiba-tiba muncul di sebuah alun-alun sosok manusia berpakaian putih, lalu masyarakat meminta untuk menjadi pemimpin, tapi sosok ini menolak karena dia hanyalah seorang pengawal, lalu ditunjukkanlah sosok tuannya disuatu tempat yang duduk di atas batu “naparak” berpakaian kuning dan dipayungi. Nah inilah yang disebut to manurung dalam arti tidak diketahui asalnya, bukanlah dilihat dari atas turun ke bumi.

Tidak disangkal adanya to manurung, namun apabila kita menelusuri arti “to manurung” yang sebenarnya, apakah benar orang berasal dari langit yang turun ke bumi ?, atau apakah hanya karena kedatangannya tanpa diketahui asal usulnya ?.

Mari kita kaji secarah harfiah tentang asal usul kata to manurung. Dalam bahasa Bugis “to” artinya milik orang kebanyakan, misalnya songko to Bone artinya songkok milik seluruh orang Bone bukan milik perorangan. Jadi tidak tepat kalau dikatakan songko tau Bone.

Sedang arti kata “tau” adalah orang atau seseorang/diri sendiri. Misalnya Lamellong tau Bone, Fatimang tau Soppeng, Kannaco tau Wajo, dll. Jadi bukan Lamellong to Bone, Fatimang to Soppeng, atau Kannaco tau Wajo.

Jadi sangat jelas perbedaan antara kata “tau” dan “to”. Di mana tau mewakili diri sendiri sedang to mewakili kepunyaan orang banyak. Dengan demikian, to manurung merupakan sebutan dari sejumlah tau manurung atau sejumlah orang yang ditokohkan. Sebutlah para tokoh pendiri bangsa Muhammad Hatta, Soekarno, dan lainnya mereka dapat juga disebut to manurung.

Banyak cerita yang melegenda, seperti dalam cerita “Sangkuriang” yang berawal dari cerita sepasang manusia dari langit yang dibuang ke bumi. Nah, apakah begitu juga dalam cerita to manurung?. Kalau begitu juga, maka perlu ditelusuri lagi adakah manusia yang hidup di atas langit ?.

Untuk mengetahui ada tidaknya manusia di atas langit yang bisa turun ke bumi tentu kita pandang secara ilmu penegtahuan. Badan Antariksa Amerika (NASA) telah mengumumkan bahwa meteorid yang jatuh di Australia beberapa waktu yang lalu mengandung azam amino. Zat ini merupakan mineral utama pembentuk kehidupan.

Dengan demikian, kehidupan di luar bumi adalah mungkin, tapi tidak memastikan bahwa itu adalah kehidupan manusia. Ada juga beredar foto penampakan “Alien” yang diyakini sebagai makhluk luar angkasa, yang perawakan dan bentuknya aneh dan menyerupai binatang padahal mereka dianggap sebagai makhluk yang cerdas dan lebih maju dari peradaban manusia.

Banyak yang percaya bahwa Alien itu memang ada dan diluar angkasa ada kehidupan. Namun belum ada yang bisa memastikan bahwa Alien itu adalah makluk langit karena belum ada yang pernah bertemu langsung dengannya.

Telah banyak astronot yang menembus luar angkasa seperti ke bulan, namun belum ada yang mengaku bertemu atau berfoto dengan makhluk yang ada di luar angkasa itu (alien).

Secara teknologi, manusia bisa ke langit atau turun ke bumi karena menggunakan pesawat. Benda langit yang jatuh ke bumi akan hancur oleh atmosfir.

Nah, bagaimana bila ada manusia langit yang mau turun ke bumi tanpa pesawat, itu bisa terjadi dan tanpa hancur bila Allah menghendakinya, seperti terjadi pada Nabi Adam, tetapi apakah itu akan terjadi pula pada manusia lainnya selain Adam ?.

Jadi secara ilmu pengetahuan tidak bisa dibuktikan bahwa ada manusia di langit yang turun ke bumi tanpa pesawat selain Adam dan Hawa.

Al-Quran mengabarkan tentang adanya penduduk langit dan bumi yang senantiasa bertasbih kepada Allah (Baca QS.Al Israa:44).

Penduduk langit dalam Islam adalah:
1. Para malaikat, yang di antaranya ada yang selalu turun ke bumi lalu naik membawa amal manusia.
2. Roh-roh manusia yang telah mati, seperti yang pernah ditemui oleh Nabi Muhammad saat saat Isra’ dan Mi’raj.

Manusia yang berada di atas langit yang turun ke bumi dalam Al-Quran adalah Adam dan Hawa, yang memang dari awalnya Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di atas bumi ini (baca QS. Al Baqarah:30).

Lalu Allah menciptakan Adam dan Hawa, lalu kemudian karena suatu masalah sehingga Allah berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS.Al Baqarah;36). Yang dimaksud oleh ayat ini adalah Adam, Hawa, dan Iblis.

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”.

Dikutip dari Tafsir Qurais Shihab, Lalu keduanya digelincirkan oleh setan) oleh Iblis dan menurut suatu qiraat ‘fa-azaalahumaa’, artinya maka Iblis pun menyingkirkan keduanya (daripadanya).

Maksudnya dari dalam surga dengan memperdayakan serta mengatakan kepada mereka, “Maukah kalian saya tunjukkan suatu macam pohon kekal yang akan mengekalkan kehidupan kalian? Itulah dia syajaratul khuldi atau pohon keabadian?” Ia tidak lupa bersumpah atas nama Allah bahwa mereka hanyalah hendak menyampaikan nasihat dan anjuran baik belaka.

Maka Adam dan Hawa pun memakan buah itu, (dan Allah mengeluarkan mereka dari keadaan yang mereka alami semula), yakni dari nikmat surga (dan firman Kami, “Turunlah kalian!”). Maksudnya ke bumi, yakni kalian berdua bersama anak cucu kalian itu (menjadi musuh bagi yang lain) disebabkan penganiayaan sebagian kalian terhadap lainnya, (dan bagi kalian tersedia tempat kediaman di bumi). Artinya tempat menetap (dan kesenangan) berupa hasil tumbuh-tumbuhan yang kalian senangi dan dapat kalian nikmati (sampai waktu tertentu) maksudnya hingga saat datangnya ajal kalian nanti.

Hingga saat ini oara ahli tafsir juga belum menemukan adanya ayat dalam Al-Quran atau hadis yang mengabarkan tentang kemungkinan adanya manusia selain Adam dan Hawa yang tinggal di langit lalu turun ke bumi.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat kemukakan, bahwa:
1. to manurung, yang sesungguhnya adalah Adam dan Hawa sebagai nenek moyang seluruh manusia, baik bangsawan maupun yang bukan bangsawan.

2. to manurung, dalam arti orang yang turun dari langit selain Adam dan Hawa dalam pandangan agama Islam dan pandangan ilmu pengetahuan sejarah tidak bisa dibuktikan kebenarannya sehingga dapat dikatakan bahwa istilah “to manurung” untuk manusia seperti Adam dan Hawa tidak ada.

3. to manurung, itu ada, dalam arti seorang pendekar yang berbudi pekerti luhur datang ke suatu tempat yang tidak diketahui asal usul atau sengaja tidak memberitahukan asal usulnya. Dan pendekar itulah yang didaulat untuk memimpin masyarakat dalam menyelesaikan masalahnya.

4. Untuk membuktikan bahwa “to manurung” selain Adam dan Hawa itu sebagai penduduk langit yang turun ke bumi perlu bukti secara ilmu pengetahuan dan dalil agama, bukan dengan dugaan, karena “Sesungguhnya dugaan itu tidak berguna untuk mencari kebenaran” (QS. Yunus:36).

loading...